NIM : 1571501467
Rangkuman Buku
Judul : KONVERGENSI MEDIA:
Perbauran Ideologi, Politik, dan Etika Jurnalisme
Penulis : Dudi Iskandar
Penerbit : Penerbit Andi
Tahun : 2018
Tebal : 346 Halaman
Bab 1 - Konvergensi Media
Teoritikus konvergensi media Henry Jenkins mendefinisikan konvergensi sebagai proses penyatuan yang terus menerut terjadi di antara berbagai media seperti teknologi, industri, konten, dan khalayak. Sementara itu, Burnett and Marshall mendefinisikan konvergensi sebagai penggabungan industri media, telekomunikasi, dan komputer menjadi sebuah bentuk yang bersatu dan berfungsi sebagai media komunikasi dalam bentuk digital. Dengan demikian, konvergensi media bisa dipahami sebagai sebuah integrasi atau penyatuan beberapa media konvensional dengan kemajuan teknologi informasi menjadi satu atap atau perusahaan. Konvergensi bukan hanya penyatuan konten- sebuah berita bisa muncul di berbagai media yang berada dalam satu perusahaan- tetapi juga penyatuan dalam satu induk perusahaan media. Di Indonesia, selain MNC grup yang sudah melakukan konvergensi secara lengkap (cetak, elektronik, dan situs), adalah Kompas Grup dan Media Grup. Kompas Grup membawahi koran Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV. Sementara itu, Media Grup membawahi surat kabar Media Indonesia, Metro TV, dan MetroTVnews.com.
Konvergensi media ternyata bukan hanya berpengaruh pada perubahaan proses jurnalistik, tetapi juga menyangkut ke berbagai aspek kehidupan. Ia akan berdampak pada konsumsi media masyarakat, persepsi publik, penyebaran informasi, dan literasi media. Singkat kata, konvergensi media bakal menghadirkan konstruksi sosial media baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Konstruksi sosial media baru dihasilkan dari proses ekspresi dan proyeksi sosial pekerja di media yang berbentuk siaran, tayangan, dan atau tulisan. Dalam setiap siaran, tayangan, dan tulisan di media mengandung ideologi dan kepentingan pemilik, pemegang saham, redaktur, produser, penulis, atau editornya. Siaran, tayangan, dan tulisan inilah kemudian membangun dalam relasi sosial antara pekerja di media dan masyarakat sekitar. Relasi sosial, kata Marx Schulman, bagi seorang wartawan dengan orang lain di dalam medianya, bertujuan menyingkap kebenaran. Hal ini disebabkan siaran, tayangan, dan atau tulisan untuk khalayak, baik yang dijual ataupun digratiskan akan membentuk makna tertentu.
Tayangan, tulisan, dan siaran yang dilontarkan dan menjadi perbincangan khalayak disebut wacana(discourse). Makin besar wacana yang dihasilkan melalui media, makin besar peluang memproduiksi makna untuk khalayak. Banyak cara yang dilakukan media dalam memproduksi wacana, antara lain strategi signing, framing, dan priming. Signing adalah penggunaan tanda-tanda bahasa, baik verbal maupun non verbal. Framing adalah pemilihan wacana berdasarkan pemihakan dalam berbagai aspek wacana. Sementara itu, Priming berarti mengatur ruang atau waktu ituk mempublikasikan wacana di hadapan khalayak.
Tiga strategi ini pula yang dilakukan oleh Kompas Grup, Media Grup, dab MNC Grup ketika memproduksi wacana pada kampanye pemilihan presiden (Pilpres) 2014, 5 Juni-5 Juli 2014. Selain dalam berita, konstruksi framing, signing dan priming, nyaris ada dalam semua acara, tanyangan dan running teks.
Konvergensi media dalam penelitian ini fokus pada representasi ideologi kekuasaan yang tercermin dalam teks berita kampanye pemilihan presiden 2014. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, konstruksi wacana objek penelitian dimensi teks menunjukan Kompas Grup memihak pasangan Jokowi-JK. Media Grup berpihak ke Jokowi-JK, dan MNC Grup berpihak ke Prabowo-Hatta. Sementara itu dimensi praktis wacana mengindikasikan Kompas Grup bersikap abu-abu, Media Grup secara tegas berpihak ke Jokowi-JK dan MNC Grup bersikap abu-abu atau tidak jelas.
Bab 2 - Ideologi Politik Dalam Kajian Media
Produk utama kerja jurnalisme adalah berita. Definisi berita adalah tulisan, tanyangan, atau siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang dimuat atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan konstruksi 5w+1h (what, why, who ,where, when, how). Jadi jika ada fakta dari kejadian yang tidak sebarkan melalui media massa, ia bukan berita. Secara sederhana berita adalah terminologi mutlak milik media massa(majalah, tabloid, surat kabar, televisi, situs dan sebagainya). Oleh sebab itu jika ada tulisan, tanyangan, atau siaran tentang fakta dan satu peristiwa atau kejadian yang dimuat atau disiarkan oleh media sosial ddengan menggunakan konstruksi 5w+1h, ia bukan berita.
Dalam kajian komunikasi khususnya teori tentang makna media yang berhubungan dengan budaya masyarakat, Stuart Hall memiliki konsep tentang representasi. Menurut Hall, representasi dengan produksi merupakan makna dari konsep yang ada di pikiran kita melalui bahasa.
Pengertian representasi sangat dekat dengan pencitraan dalam politik, yakin, proses pembentukan citra melalui proses yang diterima khalayak baik secara langsung atau maupun melalui media massa. Answar Arifin menjelaskan tentang pengertian pencitraan yang terdiri dari empat poin, yaitu, representasi di mana citra merupakan cermin realitas, ideologi di mana citra menyembunyikan dan memberi gambaran yang salah tentang realitas, citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas, citra tidak memiliki sama sekali hubungan dengan realitas apa pun.
Wacana (discourse) merupakan kesatuan yang utuh antara teks, konteks, dan praktik sosial. Wacana merupakan cara menghasilkan pengetahuan dan praktik sosialnya, bentuk subyektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan dibalik pengetahuan dan praktik sosial tersebut serta saling berkaitan diantara semuanya.
Menurut Foucault, ada lima tahapan dalam menganalisis wacana, yaitu, memahami penyataan menurut kejadian yang khas, menentukan kondisi keberadaannya, menentukan batas-batasnya, mengolerasikan dengan pernyataan lain, dan menunjuk bentuk lain dari penyataan dikemukakannya. Sementara itu episteme dapat kita definisikan dengan seperangkat apartus diskusif yang mengonstruksi wacana, baik wacana ilmiah maupun non-ilmiah. Genealogi adalah analisis berhubungan historis antar pengetahuan dan kekuasaan.
Tidak semua peristiwa bisa dibuat berita. Semuanya tergantung sudut pandang (angle) yang mau diambil oleh redaksi yang keputusannya ditentukan oleh kebijakan redaksi. Wartawan yang berada dilapangan (reporter) hanyalah mencari fakta dari sebuah peristiwa. Sementara editor hanyalah merapihkan berita. Mereka tidak bisa menentukan berita yang dibuatnya ditampilkan dalam surat kabarnya, sebab keputusan pemuatan berita ditentukan oleh kebijakan redaksi yang tercermin dalam rapat redaksi. Dengan demikian, kebijakan redaksi merupakan gabungan dari cita-cita institusi, di satu sisi, dan keinginan pembaca, pada pihak lain.
Salah satu elemen komunikasi politik adalah kampanye(politik). Tujuan utama kampanye adalah mempengaruhi publik, khususnya pemilik dalam konteks pemilihan umum atau kepala daerah. Penyampaian pesan politik kepada khalayak yang sudah tersegmentasi tidak akan efektif jika gagal dalam memilih metode penyampaian pesan dari komunikator politik, oleh sebab itu, metode yang baik sangat menentukan hasil politik pencitraan.
Bab III - Analisis Wacana Kritis Dalam Konvergensi Media
3.1 Analisis Berita Kompas Grup
Secara jurnalisitik, Kompas Grup tidak mendeklarasikan mendukung atau memihak kepada salah satu pasangan (Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK), tetapi memiliki ikatan historis dengan partai politik tertentu (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). PDIP –merupakan pecahan PDIP di era Ketua Umum Soerjadi- adalah fusi partai politik 1972. Artinya, tidak mungkin tidak mendukung Megawati Soekarno Putri atau PDIP. Demikian juga nama Kompas adalah pemberian dari Presiden Seokarno yang merupakan ayah dari Megawati yang sudah 25 tahun menjabat Ketua Umum PDIP.
3.2 Analisis Berita Media Grup
Koran dan situs mempunyai hak untuk tidak netral. Media tidak harus netral, yang harus netral itu adalah media penyiaran kenapa menggunakan frekuensi milik publik. Media ini diatur oleh negara, tetapi kalau koran atau online yang sumber dayanya dimiliki oleh pribadi tidak perlu atau tidak wajib netral. Namun dia harus tetap imparsial; independen. Bukan berarti dia tidak berpihak, tetapi independen kepada kebenaran dan independen organisasi.
Karena pertimbangan non-previlege inilah Media Grup berada di pihak Jokowi. Sikap ini sangat clear. Very Clear karena dikumandangkan dalam editorial. Media Indonesia dan Media Grup. Sikap mendukung Jokowi menjadi sikap resmi Media Grup. Sikap ini sama seperti Jakarta Post.
3.3 Teks MNC Grup
Keberpihakan Koran Sindo kepada Prabowo tidak mendapatkan imbalan apapun dari sudut finansial. Tidak ada yang dibayar. Koran Sindo hanya melihat keadilan dalam pemberitaan. Jokowi didukung oleh nyaris semua media: Kompas, Tempo, Media Indonesia. Keadilan dalam pemberitaan ini yang diusung Koran Sindo. Pemberian informasi yang seimbang menjadi konsentrasi Koran Sindo di tengah informasi yang berat sebelah ke kubu Jokowi. Koran Sindo independen, ia bukan partai politik.
Bab IV - Post-Journalism
Istilah ini berangkat dan berakar dari Post-Truth. Kamus Oxford Medefinisikan Post-trusth sebagai kondisi ketika fakta –dalam jurnalistik- tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Artinya, fakta atau peristiwa dalam sebuah berita hanya sebagai cikal bakal semata, tetapi yang membentuk persepsi dan pengaruh ke publik adalah adukan emosi, rasa sentimen, dan keyakinan pribadi. Fakta dan peristiwa dibungkus oleh media dengan sangat ciamiknya sehingga menjadikan lebih indah dari yang sebenarnya. Ia tampak lebih faktual dari fakta yang sebenarnya.
Dalam post-journalism tidak ada standar etika dan moralitas yang bisa dipegang. Realitas jurnalisme ini disebut Agus Sudibyo dengan Nihilisme Moralitas Bermedia. Masyarakat kesulitan membedakan antara berita dan hoax; informasi palsu dan keterangan asli; gosip diantara berita. Sebaliknya, berita dipandang sebagai gosip.
Post-Truth : If I don't like you, then your fact is wrong.

Komentar
Posting Komentar